7 Tahapan Penyakit

Tahap 1 – Enervasi
Penyakit tahap pertama sering diabaikan atau dianggap “normal” karena kondisi penyakit kronis yang menyerang sebagian besar manusia dimulai sejak masa kanak-kanak dan berlanjut sepanjang hidup.
Enervasi, juga disebut pelemahan saraf, adalah keadaan di mana tubuh tidak menghasilkan energi saraf yang cukup untuk melakukan tugas-tugas yang harus dilakukan tubuh, atau bisa juga tugas-tugas yang harus dilakukan tubuh lebih besar daripada pasokan energi saraf normal yang tersedia. Dalam kedua kasus tersebut, tubuh menjadi lemah, dan tubuh yang lemah menghasilkan lebih sedikit energi jika kondisi kerja berlebihan atau kekurangan energi terus berlanjut.
Mengaktifkan tubuh secara berlebihan melalui:
– Makan berlebihan, makan terlalu sering
– Mengonsumsi makanan dan minuman stimulan
– Olahraga berlebihan,
– Kerja keras berlebihan,
– Stress dan kecemasan berkepanjangan
Semua itu jika tanpa di imbangi dengan tidur, istirahat, dan puasa yang memadai, maka akan dengan cepat mengurangi energi saraf.
Bekerja terlalu keras pada sel-sel dalam proses pencernaan adalah pengurasan energi saraf kita yang terbesar.
Tidur meregenerasi energi saraf, sehingga kurang tidur dapat mengakibatkan penipisan energi saraf.
Jika pasokan energi saraf habis atau tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh, maka fungsi tubuh menjadi terganggu, termasuk proses pembuangan sisa metabolisme endogen dan racun eksogen yang dimasukkan ke dalam tubuh. Gangguan ini menimbulkan gangguan lebih lanjut termasuk berkurangnya kemampuan tubuh untuk memulihkan energi saraf yang terkuras.
Semakin sedikit energi yang tersedia untuk membersihkan, semakin sedikit energi yang dapat dihasilkan tubuh, sehingga kondisinya semakin buruk. Akhirnya mencapai tahap ke- 2 penyakit, yaitu toksenia, atau toksikosis.
Tahap 2 -Toksemia/Acidosis
Ketika zat beracun dari metabolisme sel, atau racun eksogen (dari sumber luar) memenuhi darah dan jaringan, sistem limfatik (getah bening), dan cairan interstisial, maka terjadilah kondisi toksemia, atau disebut juga acidosis yaitu tubuh yang kelebihan limbah asam.
Sebagai bagian dari fungsi normal setiap sel sehari-hari, tubuh kita menghasilkan sejumlah besar produk sampingan beracun.
Karbon dioksida adalah suatu asam yang dihasilkan oleh banyak proses tubuh.
Asam Laktat dihasilkan dari penggunaan otot kita.
Saat sel mendaur ulang dirinya sendiri melalui kehidupan dan kematian sel yang normal, mereka melepaskan asam amino, beberapa di antaranya dapat digunakan kembali dan yang lainnya menjadi limbah seluler.
Banyak komponen sel yang membusuk bersifat racun dan harus dihilangkan. Fragmen sel inilah yang oleh industri medis disebut sebagai virus dan memiliki berbagai fungsi yang secara biologis tidak mungkin dilakukan oleh benda tidak bergerak.
Saturasi jaringan dan darah disebabkan oleh limbah yang dihasilkan secara internal dan polutan yang diambil dari luar yang tidak dapat dikeluarkan oleh tubuh melalui sistem pertahanan.
Semakin banyak sel kita bekerja, semakin cepat sel tersebut terurai dan semakin banyak limbah yang dihasilkan. Bekerja berlebihan pada sel dengan mengonsumsi makanan yang tidak sesuai dengan fisiologi kita menghasilkan limbah seluler berlebih dan mengganggu pembuangan limbah seluler melalui pengurasan energi saraf yang tersedia.
Kita juga dapat menguras energi saraf kita dengan bekerja terlalu keras dan mengabaikan kebutuhan istirahat, kurang tidur, mengalami stres kronis, atau trauma emosional.
Ketika limbah yang cukup menumpuk dan tidak dihilangkan dengan cukup cepat, kita beralih ke tahap ketiga – Iritasi.
Tahap 3 – Iritasi
Iritasi adalah akibat dari bahan beracun yang dirasakan oleh jaringan saraf kita. Gejala peringatan dini ini biasanya diabaikan atau disepelekan, terutama oleh komunitas medis, namun jika diperhatikan dan diperbaiki akan mencegah berkembangnya penyakit kronis.
Ketika kita merasa gatal, mual, gelisah, cemas, atau ada area tubuh yang mengganggu tetapi tidak nyeri, kulit merah, atau perasaan tidak nyaman secara umum, tubuh kita berada pada penyakit tahap ketiga, iritasi.
Hidung yang menggelitik karena menghirup sedikit debu merupakan salah satu bentuk iritasi. Kumpulan lendir di sepanjang selaput lendir bersifat iritasi, dan iritasi tersebut tidak menimbulkan rasa sakit, namun merupakan dorongan lembut yang menggerakkan kita untuk mencari kenyamanan. Ini adalah peringatan dari tubuh akan ketidaknyamanan yang semakin meningkat dan perlu diperbaiki.
Dorongan untuk buang air kecil atau buang air besar juga merupakan salah satu bentuk iritasi ringan. Ketika limbah menumpuk di kandung kemih atau usus melebihi jumlah yang nyaman bagi tubuh, maka kita merasakan iritasi yang memaksa kita untuk mengambil tindakan.
Ketika limbah yang dibuang bersifat lebih asam dan mengiritasi, maka timbul keinginan yang lebih besar untuk buang air kecil, dan ketika kondisi penyakit bertambah, hal ini dapat menyebabkan seringnya buang air kecil atau inkontinensia karena adanya kebutuhan mendesak untuk mengeluarkan limbah asam dari tubuh, sebelum lebih lanjut melukai sel-sel di sekitar kandung kemih atau jaringan halus usus.
Tubuh menggunakan iritasi untuk mendesak kita melakukan tindakan korektif. Jika kita mematuhi perintah dari tubuh ini dan memperbaiki pola makan serta tindakan gaya hidup kita, maka bahan-bahan beracun akan dihilangkan dengan cepat dan keadaan nyaman akan kembali ke dalam tubuh.
Tahap 4 – Peradangan
Ini biasanya merupakan tahap di mana dokter mengenali suatu patologi dan di mana pasien menjadi sangat sadar akan suatu masalah, karena rasa sakit yang tidak bisa lagi diabaikan. Peradangan juga biasanya melibatkan pengalihan energi vital sehingga aktivitas normal sehari-hari tidak bisa lagi dilakukan karena kelelahan.
Saluran usus tertutup dan rasa mual dapat digunakan oleh tubuh untuk memaksa asupan makanan dihentikan sehingga tubuh dapat menghentikan masuknya limbah cukup lama untuk melakukan perbaikan. Energi yang biasanya tersedia untuk pencernaan dialihkan untuk upaya besar-besaran untuk mengatasi dan membuang timbunan limbah. Tubuh memfokuskan seluruh energinya pada pembuangan limbah karena jika tidak, tubuh akan berada dalam bahaya mematikan, atau dalam bahaya kerusakan permanen pada organ yang terkena.
Dalam kasus lain, kelelahan menjadi parah hingga memaksa tubuh beristirahat. Kelemahan otot dapat terjadi dan orang tersebut terpaksa tidur dan istirahat, sehingga tubuh dapat meregenerasi energi saraf dan mengejar tumpukan limbah yang sangat besar.
Dalam kasus peristiwa penyembuhan pilek atau flu, gejala, kelelahan, peradangan pada sinus, dan mual terus berlanjut sampai tubuh cukup membuang limbah yang cukup untuk kembali berfungsi normal.
Pada peradangan, racun biasanya terkonsentrasi di suatu organ atau area untuk melakukan upaya ekspulsif secara besar-besaran. Area tersebut menjadi meradang karena iritasi terus-menerus dari bahan beracun. Bila terjadi peradangan, label medisnya adalah “itis”, misalnya radang usus buntu, radang amandel, hepatitis, atau nefritis. Perhatikan bahwa “itis” yang tercantum semuanya disebabkan oleh beban berlebihan pada empat organ pemurnian dan eliminasi yang berbeda – usus buntu, amandel (bagian dari sistem limfatik), hati, dan ginjal.
Nama “itis” biasanya diambil dari nama area organ atau jaringan yang mengalami peradangan. Jadi kalau kita mengalami selesma atau pilek, kita menderita rinitis. Jika kita mengalami peradangan pada rongga sinus, kita menderita sinusitis. Jika kita mengalami peradangan pada jaringan bronkus, kita menderita bronkitis atau asma.
Kita memiliki patologi spesifik ini karena dalam setiap kasus, tubuh memilih untuk menghilangkan beban racun yang luar biasa melalui organ yang terkena.
Kondisi ini menjadi kronis karena kondisi toksik yang tiada henti membuat orang tersebut tidak pernah memperbaiki pola makannya untuk mengangkat beban dari tubuh sehingga tubuh tidak pernah dapat mengejar ketinggalannya dan menyelesaikan proses detoksifikasi.
Ketika orang tersebut terus meracuni dirinya sendiri melebihi kemampuan saluran eliminasi PRIMER, maka tubuh terus menghilangkan kelebihan beban melalui organ yang meradang atau saluran eliminasi SEKUNDER.
Tahap 4- Peradangan [Demam]
Demam merupakan gejala umum pada tahap ke-4. Peradangan dan demam adalah respons krisis tubuh terhadap situasi yang mengancam jiwa. Hanya tubuh sendirilah yang menciptakan demam.
Demam merupakan bukti peningkatan dan intensnya aktivitas tubuh yang ditujukan untuk pembersihan dan perbaikan. Energi luar biasa yang digunakan untuk demam mengorbankan energi yang biasanya digunakan dalam pencernaan, bekerja atau bermain, berpikir, dan aktivitas normal sehari-hari lainnya.
Mengutip T.C. Fry, “Demam adalah kegiatan penyembuhan. Gagasan untuk menekannya sama dengan memukul kepala orang yang tenggelam agar dia berhenti berjuang.”
Misalnya, jika penderita rinitis atau influenza diberi obat, hal itu sama dengan memukul penyembuh tubuh secara berlebihan. Dengan demikian, upaya eliminasi ditekan, dan toksisitas meningkat hingga organ-organ lain, biasanya paru-paru, menjadi jenuh—tidak hanya dengan toksisitas tetapi juga dengan obat-obatan yang diberikan. Ketika vitalitas tubuh kembali pulih, kemungkinan besar akan terjadi kondisi yang disebut PNEUMONIA
Peradangan adalah penyakit tahap keempat dan merupakan upaya tubuh yang paling intens untuk membersihkan dan memulihkan dirinya sendiri. Jika dibiarkan tanpa intervensi berbahaya, tubuh akan berhasil menghilangkan kondisi penyakit dan kembali ke keadaan sehat atau mendekati kesehatan.
Namun jika peradangan tidak dibiarkan berlanjut, jika orang tersebut mengkonsumsi obat-obatan atau makanan anti inflamasi, jamu atau produk alami lainnya untuk menekan gejala penyembuhan tersebut maka tubuh akan melanjutkan penyakit tahap kelima, yaitu ULSERASI, yang bersifat merusak, bersifat degeberatif. Kita akan membahas lebih lanjut di bab selanjutnya mengapa pengobatan yang menekan proses penyembuhan tubuh tidak kondusif bagi kesehatan.
Tahap 5 – Ulserasi
Ulserasi merupakan tahap pertama dari penyakit DEGENERATIF. Ulserasi berarti bahwa struktur sel dan jaringan dihancurkan dengan kecepatan yang lebih cepat dibandingkan kemampuan tubuh untuk menggantikannya dengan yang baru. Sistem fisiologis hancur karena ketidakmampuan sel untuk hidup terus-menerus, yang artinya bahwa medan (terrain) yang beracun belum diatasi.
Contohnya adalah Lesi atau tukak, misalnya tukak lambung atau tukak pada penderita diabetes yang belum sembuh, atau luka baring pada orang cacat atau lumpuh. Kondisi ini sering kali sangat menyakitkan akibat saraf yang terbuka dan cedera sel tingkat tinggi.
Dalam beberapa kasus, tubuh mungkin menggunakan ulserasi sebagai bagian dari proses detoksifikasi, sebagai akibat dari penumpukan racun yang luar biasa, sehingga membuang beban limbah secara eksternal.
Tubuh akan menyembuhkan ulserasi jika penyebabnya dihilangkan, pola makan dikoreksi dan faktor gaya hidup dikoreksi serta tingkat toksisitasnya diturunkan secara signifikan. Proses “perbaikan kerusakan” akibat tukak disebut INDURASI, yang merupakan penyakit tahap ke-6.
Tahap 6 – Indurasi
Indurasi merupakan pengerasan jaringan atau pengisian ruang kosong jaringan akibat lesi/ulserasi dengan jaringan keras. Jaringan parut adalah salah satu bentuk indurasi.
Pada tahap ini, terdapat arah dan tujuan dalam pengerasan. Ruang tersebut terisi, dan bahan-bahan beracun yang mengancam integritas tubuh terbungkus dalam kantung jaringan yang mengeras. Lesi, Bisul dan bahan beracun ditutup oleh pengerasan jaringan di sekitarnya. Ini adalah cara mengkarantina bahan beracun, yang sering disebut pembentukan TUMOR. Sebagian besar diagnosis KANKER termasuk dalam penyakit stadium ke-enam meskipun tidak ada kanker.
Indurasi adalah tahap terakhir di mana tubuh melakukan kontrol cerdas. Jika praktik patogenik yang menyebabkan masalah sampai pada tahap ini terus berlanjut, seperti pemberian makanan yang salah pada tubuh, maka sel dan sistem jaringan menjadi rusak. Alih-alih bekerja sama dengan sel-sel di sekitarnya, mereka beralih ke mode bertahan hidup setiap sel untuk dirinya sendiri.
Jika penyebab penyakit tidak diatasi, sel-sel dapat menjadi parasit, yaitu hidup dari nutrisi yang diperoleh dari cairan getah bening namun tidak memberikan kontribusi apa pun terhadap tubuh. Mereka menjadi tidak terorganisir, kemampuan mereka untuk bekerja sama telah diubah oleh racun. Dengan demikian, sel-sel ini tidak mampu melakukan aktivitas cerdas yang terorganisir secara normal dalam sistem tubuh.
Tahap 7 – Kanker
Tahap terakhir dari evolusi penyakit adalah KANKER. Ini adalah tahap terakhir dari penyakit dan jika penyebab penyakit tidak segera dihilangkan, kanker bisa berakibat fatal. Tubuh tidak dapat terus beroperasi jika sel-selnya tidak dapat bekerja sama.
Menghilangkan penyebab dan mengoptimalkan praktik-praktik sehat dapat menghentikan perkembangan kanker jika hal-hal tersebut dapat merevitalisasi tubuh sehingga dapat menghancurkan sel-sel kanker.
Kondisi yang ideal bagi tubuh harus diterapkan dan tidak ada cedera lebih lanjut pada tubuh akibat masuknya zat yang dapat meracuninya.
Sel-sel kanker hidup di lingkungan yang tidak bersahabat dan rendah oksigen tetapi masih membelah dan berkembang selama nutrisi tersedia bagi sel-sel tersebut. Sel kanker dapat dianggap sebagai sel yang telah menjadi mandiri dan kembali ke status sel sederhana yang tidak terkendali – sel yang hidup sendiri seperti halnya protozoa. Sel secara mandiri fokus pada kelangsungan hidupnya sendiri dan tidak lagi fokus pada kelangsungan hidup seluruh organisme (tubuh).
Pendekatan Natural Hygiene pada Kanker adalah MENGHILANGKAN RACUN dari sistem yang menciptakan sel-sel Kanker dan MENCIPTAKAN KONDISI yang membuat kebutuhan sel-sel tersebut tercipta.
Cara medis untuk menangani Kanker adalah dengan menerapkan racun karsinogen ke dalam tubuh.
Memasukkan zat karsinogen, melukai jaringan sehat tubuh melalui pembedahan invasif, dan membakar tubuh dengan radiasi, semua ini akan menimbulkan penyakit pada tubuh yang sehat tetapi harus membantu tubuh yang keracunan. Hasil akhir dari upaya mengobati tubuh dengan racun inilah yang menjadikan efrk samping obat menjadi penyebab kematian nomor 3.
“Berusaha menyembuhkan suatu penyakit tanpa menghilangkan penyebabnya, ibarat berusaha menyadarkan orang mabuk sambil terus minum. Kita tidak akan melakukan hal sebodoh itu.” (Herbert Shelton)
Setelah meninjau 7 tahapan penyakit, seharusnya jelas bahwa bakteri dan virus bukan penyebab penyakit. Bagaimana hal tersebut bisa menjadi penyebabnya jika terjadi pada orang sehat maupun orang sakit?
Mereka sebenarnya adalah GEJALA PENYAKIT dan bagian dari PROSES PENYEMBUHAN TUBUH.
Bakteri di dalam sistem kita berada di bawah kendali tubuh setiap saat. Menyalahkan bakteri sebagai penyebab penyakit sama dengan menyalahkan lalat atas sampah yang mereka bekerja untuk mendaur ulang. Lalat tidak membuang sampah pada tempatnya, mereka hanya melakukan tugasnya di alam untuk mendaur ulang limbah kembali menjadi bahan yang lebih kecil.
Gejala eliminasi atau detoksifikasi tubuh bukanlah penyakit yang perlu ditakuti melainkan solusi yang diciptakan oleh sistem detoksifikasi tubuh.
Jika kita ingin mendetoksifikasi tubuh kita, kita harus memahami proses dimana sel dan jaringan tubuh membersihkan dan memperbaiki dirinya sendiri.
Jika kita tidak memahami proses ini maka kita berisiko mengikuti cara medis yaitu meracuni tubuh hingga proses pembersihannya berhenti.
Setiap pilek atau flu yang kita hentikan dengan obat-obatan, jamu, atau herbal, mendorong sel-sel kita selangkah lebih dekat ke kanker dan akhirnya kematian.
Setiap kali kita mengonsumsi obat antiinflamasi, kita menghentikan proses detoksifikasi tubuh. Setiap kali kita mengonsumsi antibiotik, baik antibiotik farmasi atau alami, kita membunuh bakteri yang ada di tubuh kita yang bertanggung jawab untuk memecah racun dan menghilangkan produk limbah beracun.
Setiap intervensi berupaya menekan proses penyembuhan tubuh itu sendiri. Satu-satunya solusi adalah menghentikan praktik apapun yang menjadi penyebab penyakit (limbah asam), sehingga tubuh akan mulai fokus membersihkan limbah-limbah lama yang telah mengendap di dalam sistem.