Mengapa Food Combining Penting?

Hewan di alam mengonsumsi makanan dengan sangat sederhana. Mereka menemukan pohon buah, lalu makan sampai kenyang dan melanjutkan perjalanan. Mereka jarang mencampur berbagai jenis makanan. Jika pun mencampurnya, biasanya makanan tersebut tumbuh berdekatan dan memiliki jenis yang serupa.

Ketika serigala membunuh mangsanya, ia tidak berhenti makan untuk mencari buah beri, kale, dan wortel demi membuat makanan yang dianggap “seimbang”. Ia memakan mangsanya, kemudian berbaring di bawah sinar matahari atau mencari tempat yang nyaman untuk tidur. Hewan pemakan daging tidak mengonsumsi karbohidrat bersamaan dengan protein.

Rusa yang merumput di hutan mungkin berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya, tetapi tetap memakan jenis makanan yang serupa. Burung juga pernah diamati memakan serangga pada waktu tertentu dan biji-bijian pada waktu yang lain. Hanya manusia yang telah membiasakan diri mengonsumsi beragam jenis makanan dalam satu kali makan.

Mengapa Food Combining penting?

Kita tidak bisa memperoleh manfaat optimal dari makanan yang tidak dicerna dengan baik. Mengonsumsi makanan yang kemudian mengalami fermentasi atau pembusukan di dalam saluran pencernaan bukan hanya menyia-nyiakan makanan tersebut, tetapi juga dianggap merugikan tubuh.

Menurut pandangan Natural Hygiene, buah yang tidak tercerna akan mengalami fermentasi dan menghasilkan ALKOHOL yang dapat meracuni tubuh. Lebih buruk lagi, proses pembusukan daging juga akan menghasilkan AMONIA.

Ketika tubuh berhadapan dengan zat-zat tersebut, seperti ALKOHOL atau AMONIA, tubuh bereaksi terhadap apa yang dianggap sebagai racun dengan mengalami ENERVASI, yaitu penurunan energi vital. Kondisi ini diibaratkan seperti alarm darurat di kapal perang. Semua awak harus segera bertindak.

Tubuh memicu aktivitas yang sangat intens, energi dilepaskan, dan tubuh mulai bekerja untuk mengeluarkan zat tersebut serta melindungi dirinya. Salah satu efek samping dari proses ini adalah munculnya perasaan seperti sedang berada dalam kondisi berenergi tinggi, akibat pelepasan adrenalin.

Karena tidak memahami hubungan sebab dan akibat ini, kita bisa menjadi terbiasa, bahkan kecanduan, terhadap kebiasaan yang justru merugikan tubuh.

Pengguna narkoba bisa kecanduan sensasi yang ditimbulkannya, padahal kita mengetahui bahwa narkoba merusak tubuh. Pecandu alkohol juga bisa kecanduan sensasi yang muncul ketika mengonsumsinya, sementara alkohol merusak tubuh mereka.

Hal serupa juga bisa terjadi pada kebiasaan makan. Seseorang bisa menjadi kecanduan sensasi yang ditimbulkan oleh lemak, garam, kombinasi makanan yang tidak tepat, proses pembusukan jaringan makanan, serta fermentasi pati dan gula.

Kita bisa memahami bahaya perilaku pengguna narkoba dan pecandu alkohol, tetapi sering kali mengabaikan hubungan sebab dan akibat yang serupa ketika berbicara tentang pilihan makanan.

Yang membuat pengguna narkoba kecanduan adalah reaksi tubuh yang dirasakannya, bukan semata-mata zat yang dikonsumsinya.

Singkatnya, Food Combining yang tepat adalah penting karena akan membantu meningkatkan kualitas pencernaan dan, sebagai konsekuensinya, pemanfaatan makanan oleh tubuh, sekaligus menghindari proses yang dalam konsep Natural Hygiene disebut sebagai peracunan tubuh.

Bagaimana kombinasi makanan yang tidak tepat dapat menyebabkan makanan tidak tercerna, fermentasi, dan pembusukan?

Makanan yang kita konsumsi dalam bentuk karbohidrat, protein, dan lemak belum bisa langsung digunakan oleh tubuh. Makanan tersebut harus melalui serangkaian proses penguraian, penyempurnaan, dan penyeragaman yang disebut pencernaan.

Pencernaan terdiri atas proses fisik dan proses kimiawi. Dalam pembahasan Food Combining ini, perhatian kita terutama diarahkan pada proses kimiawi pencernaan.

Tubuh menghasilkan enzim untuk memecah komponen makanan yang berukuran besar menjadi komponen yang lebih kecil sehingga dapat diserap dan masuk ke aliran darah.

Setiap enzim memiliki fungsi yang spesifik. Enzim yang bekerja pada karbohidrat tidak bekerja dengan cara yang sama pada protein, garam, atau lemak.

Bahkan pada kelompok zat yang sama, enzim akan memiliki fungsi yang berbeda. Sebagai contoh, enzim yang memecah maltosa tidak mampu memecah laktosa, meskipun keduanya termasuk gula atau karbohidrat.

Dr. N. Philip Norman, seorang pengajar gastroenterologi di New York Polyclinic Medical School and Hospital, New York City, mengatakan:

“Ketika mempelajari kerja berbagai enzim, kita akan teringat pada pernyataan Emil Fischer bahwa setiap gembok memiliki kunci khusus. Enzim pencernaan diibaratkan sebagai gembok, sedangkan substratnya adalah kunci. Jika kunci tidak cocok secara tepat dengan gemboknya, tidak akan terjadi reaksi.

Mengingat fakta tersebut, bukankah masuk akal untuk mempertanyakan apakah pencampuran berbagai jenis karbohidrat, lemak, dan protein dalam satu kali makan dapat merugikan sel-sel pencernaan? Jika benar bahwa sel-sel dengan jenis yang sama menghasilkan enzim yang serupa, tetapi tidak identik, bukankah pencampuran tersebut dapat membebani fungsi fisiologis sel-sel itu hingga batas kemampuannya?”

Pencernaan dimulai di mulut melalui dua proses, yaitu proses mekanis berupa pengunyahan dan proses kimiawi melalui air liur.

Dalam proses pencernaan kimiawi di mulut, pemecahan pati dimulai dengan bantuan enzim ptialin yang memecah pati menjadi maltosa.

Kerja ptialin terhadap pati di dalam air liur merupakan bagian penting dari proses pencernaan. Enzim yang bekerja memecah gula di lambung tidak dapat menggantikan fungsi enzim yang memecah pati.

Dengan demikian, proses pertama perlu berlangsung sebelum proses berikutnya dapat berjalan.

Cairan lambung memiliki tingkat keasaman yang dapat bervariasi, dari mendekati netral hingga sangat asam, bergantung pada makanan yang dikonsumsi. Enzim tertentu bekerja dalam kondisi sangat asam, sedangkan enzim lainnya membutuhkan kondisi yang lebih rendah tingkat keasamannya atau mendekati netral.

Sebagai contoh, pepsin bekerja pada protein. Pepsin bekerja dalam lingkungan asam dan bisa kehilangan aktivitasnya dalam lingkungan basa. Suhu yang rendah, seperti ketika meminum air es, ini bisa memperlambat atau bahkan menghentikan sementara aktivitas pepsin.

Setiap enzim membutuhkan kondisi tertentu agar bisa bekerja dengan baik. Kondisi yang dibutuhkan oleh satu enzim terkadang berbeda dengan kondisi yang dibutuhkan oleh enzim lainnya. Perbedaan ini bisa menghambat pencernaan suatu jenis zat ketika kondisi di dalam saluran pencernaan tidak sesuai untuk zat tersebut.

Sebenarnya masih banyak hal yang dapat dibahas secara terperinci mengenai proses pencernaan. Namun, inti yang ingin kami adalah bahwa pencampuran makanan yang tidak tepat bisa menyebabkan pencernaan yang kurang optimal, penyerapan yang tidak memadai, fermentasi, dan pembusukan, yang semuanya bisa berdampak negatif terhadap kesehatan.

Jika kita tetap ingin mengonsumsi makanan campuran, sebaiknya kita berusaha memilih kombinasi yang bisa dicerna dengan baik secara bersamaan dan meminimalkan kombinasi yang dianggap kurang sesuai.

Bagi yang ingin mempelajari proses pencernaan lebih jauh, kami merekomendasikan buku Dr. Herbert Shelton berjudul Food Combining Made Easy, dan buku Shelton lainnya, The Science and Fine Art of Food & Nutrition.

Aturan Food Combining memang bisa menjadi rumit. Banyak orang merasa kewalahan menghafalnya, sementara sebagian lainnya menjadi terlalu terobsesi, bersikap kaku, atau menganggap Food Combining memiliki kemampuan yang sebenarnya tidak dimilikinya.

Secara pribadi, saya lebih menyukai pendekatan yang tidak berlebihan. Makanan utama saya biasanya sederhana, sering kali hanya satu jenis buah, atau dua hingga tiga jenis buah saja.

Ketika mengonsumsi makanan campuran, saya berusaha menghindari kombinasi yang paling tidak sesuai. Food Combining adalah alat yang baik untuk membantu meminimalkan beban pencernaan ketika mengonsumsi makanan campuran. Namun, tujuan akhirnya adalah menjadikan makanan sederhana yang tidak banyak dicampur sebagai pola makan utama.

Sembilan aturan asli Food Combining dari Dr. Shelton

  1. Jangan mengonsumsi makanan berkarbohidrat bersama makanan yang bersifat pH asam dalam satu kali makan.
  2. Jangan mengonsumsi protein pekat bersama karbohidrat pekat dalam satu kali makan.
  3. Jangan mengonsumsi dua jenis protein pekat dalam satu kali makan.
  4. Jangan mengonsumsi lemak bersama protein.
  5. Jangan mengonsumsi buah asam bersama protein.
  6. Jangan mengonsumsi pati bersama gula.
  7. Konsumsilah hanya satu jenis pati pekat dalam satu kali makan.
  8. Jangan mengonsumsi melon bersama makanan lain.
  9. Susu paling baik dikonsumsi sendiri, tanpa dicampur dengan makanan lain.

Cara saya menerapkan aturan tersebut

  1. Tentang campuran protein pekat dengan pati pekat
    Jika salah satu bahan hanya dikonsumsi sedikit, sekadar sebagai pelengkap atau penambah rasa, situasinya bisa berbeda. Apalagi jika makanan tersebut didampingi banyak sayuran segar. Dalam praktik sehari-hari, kombinasi seperti ini biasanya tidak perlu terlalu dikhawatirkan, meskipun secara teori kombinasi makanannya kurang sesuai.
  2. Tentang campuran dua jenis karbohidrat (pati) pekat
    Aturan FC memang menyarankan agar kita mengonsumsi satu jenis pati pekat dalam satu kali makan. Namun, bukan berarti nasi tidak boleh sama sekali dipadukan dengan jagung (misalnya). Jika nasi menjadi makanan utama, jagung hanya ditambahkan sedikit, dan isi piring didominasi sayuran segar, kita tidak perlu terlalu mempermasalahkan kombinasi tersebut. Sama juga dengan jika dua-duanya hanya dalam takaran ringan dan didominasi sayuran.
  3. Tenang campuran karbohidrat (pati) dengan makanan ber pH asam (tomat, lemon, dsb)
    Jika bahan asam hanya digunakan sedikit sebagai pelengkap atau penambah rasa, sementara makanan tetap sederhana dan didampingi sayuran segar, kita tidak perlu langsung menganggap kombinasi itu sebagai kesalahan besar.
  4. Tentang mencampur karbohidrat (pati) dengan gula selama campuran ringan tidak perlu dipermasalahkan secara berlebihan. Misalnya, es cincau atau es cendol yang menggunakan sedikit gula aren sebagai pemanis. Kita tidak perlu langsung menganggap kombinasi tersebut sebagai kesalahan besar hanya karena pati dan gula tercampur.

Intinya, yang perlu diperhatikan adalah jumlah dan komposisi makanan secara keseluruhan. Ada perbedaan antara menjadikan pati dan gula sebagai dua komponen utama dalam jumlah besar dengan sekadar menambahkan sedikit pemanis ke dalam hidangan.

Food Combining bukan aturan yang harus diterapkan secara kaku. Kita perlu memperhatikan jenis makanan, jumlah atau porsinya, dan komposisi keseluruhan makanan yang dikonsumsi.

Aturan yang disederhanakan ini memang tidak sempurna. Namun, jika sebagian besar makanan yang kita konsumsi berupa makanan sederhana, beberapa kali makan dengan kombinasi yang kurang tepat tidak akan menjadi beban yang terlalu besar.

Tujuan Food Combining membantu kita memilih makanan dengan lebih bijaksana, bukan membuat kita takut makan atau stres karena setiap bahan makanan yang tercampur di dalam satu piring. Pertahankan pola makan sederhana secara keseluruhan, perhatikan respons tubuh, dan jangan sampai aturan kombinasi makanan justru menjadi beban pikiran.

Jika kita salah mengombinasikan makanan, tubuh mungkin saja (ada pula yang tidak) memberikan respons berupa gas, perut kembung, atau rasa tidak nyaman. Kita bisa memperhatikan respons tersebut dan menghindari kombinasi yang sama pada kesempatan berikutnya.

Sebagian orang menghabiskan banyak waktu untuk menghafal tabel kombinasi makanan. Seharusnya, ini tidak perlu menjadi faktor yang cukup besar sehingga harus dihafalkan atau sampai menimbulkan stres.

Dalam praktiknya, jika kita mengonsumsi makanan segar, seharusnya sebagian besar makanan kita berupa makanan sederhana.

Kalau ingin membuat menu yang lebih beragam, silahkan melihat tabel kombinasi makanan yang tersedia di link berikut: https://terrain-model.com/prinsip-food-combining-natural-hygiene-komunitas-terrain-model/

Meluruskan mitos dan kesalahpahaman

Food Combining memang merupakan salah satu faktor yang dianggap penting untuk mendukung pencernaan yang optimal. Namun, Food Combining hanyalah satu dari sekian banyak faktor yang berkaitan dengan kesehatan.

Jika kita sampai stres memikirkan aturan kombinasi makanan, berarti kita mungkin terlalu terpaku pada satu bagian kecil dan kehilangan gambaran besarnya.

Bahkan dalam Life Science Course yang dibukukan oleh TC. Fry terdiri atas 101 pelajaran mengenai berbagai faktor yang dibutuhkan untuk membangun dan mempertahankan kesehatan. Dari seluruh pelajaran tersebut, hanya dua yang secara khusus membahas Food Combining.

Food Combining memang penting untuk dipahami dan diterapkan, tetapi bukan merupakan satu-satunya pusat perhatian. Food Combining bukan jalan pintas ajaib atau rahasia untuk mencapai kesehatan yang sempurna.

Ketika Dr. Shelton menulis buku tentang Food Combining, fokus utamanya adalah membantu orang-orang yang masih ingin mengonsumsi produk hewani. Dalam konsep Prof Arnold Ehret adalah makanan pembentuk mucus tinggi.

Orang yang pola makannya didominasi makanan segar biasanya secara alami akan semakin memilih makanan yang sederhana seiring waktu. Mereka mulai lebih menikmati cita rasa buah daripada sensasi yang ditimbulkan oleh makanan campuran.

Kita mungkin tidak merasa berada dalam kondisi yang optimal, tetapi satu kali makan dengan kombinasi yang kurang tepat tidak serta-merta berarti upaya pemulihan tubuh menjadi gagal.

Pelajarilah prinsip-prinsip dasar untuk mendukung pencernaan yang optimal, tetapi jangan sampai aturan tersebut justru menjadi sumber stres.

Stres, juga bersifat mengasamkan tubuh. Sementara itu, pola makan sederhana merupakan bagian dari proses berangsur-angsur kembali menuju pola makan alami.

Pertahankan pola makan yang sederhana secara keseluruhan. Kesalahan kecil yang sesekali terjadi tidak perlu menjadi sumber kecemasan yang berlebihan.

Sebagai penutup, berikut ini kutipan perkataan Dr. Shelton:

“Ada alasan untuk meyakini bahwa manusia, seperti hewan lainnya, dahulu secara naluriah menghindari kombinasi makanan yang tidak tepat. Sisa-sisa kebiasaan naluriah tersebut masih dapat ditemukan hingga sekarang.

Namun, setelah menyalakan obor intelektual di atas reruntuhan naluri, manusia harus mencari jalannya sendiri di tengah berbagai keadaan dan pengaruh yang membingungkan, dengan cara coba-coba yang sering kali keliru.

Setidaknya, demikianlah yang terjadi sampai manusia memperoleh pengetahuan yang cukup dan memahami prinsip-prinsip yang telah terbukti, sehingga mampu mengatur perilakunya berdasarkan pengetahuan dan prinsip tersebut.

Oleh karena itu, alih-alih mengabaikan kumpulan pengetahuan fisiologis yang telah lama dikembangkan mengenai pencernaan makanan, atau menganggapnya tidak penting sebagaimana yang sering dilakukan oleh para ahli fisiologi profesional, kita seharusnya memanfaatkan pengetahuan tersebut secara penuh dan tepat.

Jika fisiologi pencernaan dapat membantu kita menentukan kebiasaan makan yang menghasilkan pencernaan yang lebih baik dan, sebagai konsekuensinya, nutrisi yang lebih baik, hanya orang yang tidak bijaksana yang akan mengabaikan nilainya yang besar bagi kesehatan dan ketika menghadapi penyakit.”

Siap melakukan perubahan, tetapi belum tahu harus mulai dari mana? Membutuhkan motivasi atau pendampingan agar lebih konsisten?
Silahkan bergabung bersama kami dalam kelas bulanan Terrain Model.

CATEGORIES
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)