Manusia adalah Frugivora (Sebuah studi anatomi komparatif)

Studi anatomi komparatif secara jelas menunjukkan bahwa manusia termasuk jenis herbivora khusus yang disebut FRUGIVORA, yaitu pola makan alaminya didominasi buah-buahan.
Anatomi komparatif salah satu pilar utama dalam taksonomi dan klasifikasi hewan modern. Cabang biologi ini mempelajari bagian-bagian tubuh hewan, kemudian mengelompokkannya berdasarkan persamaan dan perbedaan yang ditemukan.
Istilah karnivora, omnivora, dan herbivora berasal dari disiplin ilmu ini karena anatomi dan fisiologi setiap hewan berkaitan dengan cara mereka memperoleh makanan untuk mempertahankan kehidupannya.
CARL LINNAEUS, tokoh yang berperan penting dalam sistem taksonomi modern, mengklasifikasikan manusia sebagai frugivora. Ia menulis:
“Pernyataan bahwa manusia memiliki struktur anatomi omnivora merupakan ketidakakuratan yang sangat besar. Struktur tubuh manusia, baik bagian dalam maupun luar, jika dibandingkan dengan hewan lain, menunjukkan bahwa buah-buahan dan sayuran berair merupakan makanan alami manusia.”
Benarkah demikian? Yuk kita periksa bukti-buktinya.
Kita akan melihat susunan gigi, rahang, saluran usus, pH lambung, tangan dan kaki, kulit, serta hati dan ginjal manusia.
Gigi manusia
Gigi manusia memiliki kemiripan dengan gigi hewan herbivora.
Keberatan yang paling sering muncul adalah bahwa manusia memiliki gigi taring. Namun, tahukah Anda bahwa banyak hewan herbivora juga memiliki gigi taring? Kuda nil, babun, gorila, bahkan beberapa jenis rusa dan unta memiliki gigi taring atau gigi menyerupai taring yang berukuran besar.
Cobalah bandingkan gigi manusia dengan gigi kucing, anjing, beruang, singa, dan hewan karnivora lainnya. Gigi manusia jauh lebih menyerupai gigi sapi, meskipun sapi merupakan herbivora ruminansia, sedangkan manusia dikategorikan sebagai FRUGIVORA.
Gigi manusia juga memiliki kemiripan yang sangat besar dengan gigi kera dan monyet.
Herbivora, seperti sapi, memiliki 24 gigi geraham, delapan gigi seri pada rahang bawah, dan langit-langit mulut bagian atas yang keras. Rahang mereka dapat bergerak ke atas dan ke bawah, ke samping, ke depan, dan ke belakang, sehingga memungkinkan mereka merobek dan menggiling rumput yang kasar.
Omnivora, seperti babi, bisa memiliki gigi taring menyerupai gading yang digunakan untuk menggali akar.
Frugivora, seperti simpanse, memiliki 32 gigi: 16 pada setiap rahang, termasuk empat gigi seri, dua gigi taring, empat gigi premolar, dan enam gigi geraham. Gigi taringnya disesuaikan untuk memecahkan kacang, sedangkan susunan gigi yang relatif seragam memungkinkan frugivora melumatkan dan menggiling buah-buahan.
Sebaliknya, karnivora, seperti kelompok kucing, memiliki gigi taring yang berkembang sangat baik, panjang, tajam, berbentuk silindris, meruncing, dan terpisah dari gigi lainnya. Gigi bertaring dan runcing yang mampu menembus serta membunuh mangsa, merobek, dan mencabik daging merupakan ciri khas karnivora sejati, kecuali beberapa jenis burung.
Rahang karnivora yang kuat hanya bergerak secara vertikal dan sangat sesuai untuk merobek serta mencabik daging, yang kemudian ditelan hampir secara utuh dan diproses oleh cairan lambung yang sangat kuat.”
Saluran usus manusia
Saluran usus manusia juga memiliki struktur yang disebut SACCULATED, yaitu memiliki kantong-kantong atau tonjolan tertentu pada saluran pencernaan.
Struktur tersebut berfungsi memperlambat pergerakan bahan tumbuhan yang sedang dicerna. Serat membantu proses ini sehingga tubuh memiliki kesempatan untuk memperoleh nutrisi dan cairan dari makanan.
Sebaliknya, omnivora dan karnivora memiliki saluran pencernaan yang lebih halus karena limbah dari makanan berupa daging dianggap lebih keras atau lebih membebani tubuh. Setelah makanan dicerna, saluran pencernaan mereka dirancang untuk mengeluarkan limbah dengan lebih cepat.
Karnivora dan omnivora juga memiliki perbedaan pada hati dan ginjal yang membantu pengelolaan limbah tersebut.
Hewan-hewan tersebut juga mampu mencerna tulang secara utuh….
Jika manusia memakan pecahan tulang, asam lambung manusia tidak cukup kuat untuk menguraikan dan mencernanya. Sementara itu, omnivora dan karnivora bisa menguraikan tulang utuh tanpa kesulitan karena tubuh mereka memiliki kemampuan tersebut.
Bentuk lambung dan ukuran organ
Pada karnivora, lambung berbentuk kantong kecil dan bulat yang dirancang untuk melarutkan daging dengan cepat, kemudian meneruskannya agar dapat dikeluarkan.
Pada pemakan tumbuhan, khususnya hewan ruminansia, lambung terdiri atas beberapa kantong yang saling terhubung dan memiliki lipatan-lipatan menyerupai cincin.
Lambung frugivora, termasuk manusia, berbentuk memanjang dan memiliki lipatan yang disebut rugae. Lipatan ini berfungsi menahan makanan selama jangka waktu yang relatif lama.
Ukuran organ berbagai spesies juga berbeda secara mencolok.
Hati dan ginjal karnivora berukuran jauh lebih besar dibandingkan organ pada hewan vegetarian. Ginjal singa berukuran dua kali ginjal banteng dan tidak jauh lebih kecil daripada ginjal gajah.
Ukuran tersebut dikaitkan dengan kemampuan singa menangani protein dalam jumlah besar dan limbah nitrogen yang terdapat dalam pola makan alaminya berupa daging.
Hati karnivora yang besar juga menghasilkan empedu dalam jumlah lebih banyak untuk dialirkan ke usus halus dibandingkan hati herbivora. Jadi ada hubungan langsung antara jumlah daging yang dikonsumsi dan jumlah empedu yang dihasilkan.
Dalam perspektif Natural Hygiene disimpulkan bahwa konsumsi daging memberikan beban pada hati manusia yang berukuran lebih kecil, sehingga dalam jangka panjang bisa mengganggu fungsi organ tersebut.
Menurut pandangan Natural Hygiene, manusia belum beradaptasi dengan baik terhadap pola makan karnivora yang tinggi produk hewani. Hati manusia dianggap tidak mampu menangani produk-produk yang dinilai beracun dalam makanan hewani, seperti asam urat, secara optimal.
Ginjal manusia juga dianggap lebih kecil dan berisiko mengalami gangguan akibat beban kerja yang berlebihan karena pola makan tinggi protein hewani.
Protein dan ASI sebagai pembanding
Perbedaan utama antara pola makan alami manusia dan banyak pola makan modern adalah masuknya zat-zat yang dianggap mengiritasi tubuh, makanan yang dimasak, serta protein dalam jumlah berlebihan.
Bagaimana kita mengetahui bahwa manusia bisa tumbuh dan berkembang dengan baik tanpa protein dalam jumlah tinggi?
Bandingkan kandungan protein dalam ASI manusia dengan susu Ibu dari spesies lain…
Perbandingan pertumbuhan bayi dan kandungan protein susu Ibu

Angka pertama menunjukkan rata-rata jumlah hari yang dibutuhkan bayi dari spesies tertentu untuk menggandakan berat badannya. Angka kedua menunjukkan rata-rata persentase protein dalam susu induknya.
Kebutuhan protein tertinggi dalam makanan sebagian besar hewan terjadi pada masa ketika bayi mereka menggandakan berat badan seperti yang ditunjukkan di atas.
(Penjelasan T.C. Fry mengenai protein)
Penting bagi kita untuk menyadari bahwa kandungan protein dalam susu Ibu/induk, yaitu makanan optimal yang disediakan alam untuk mendukung pertumbuhan anak secara cepat, jauh lebih rendah dibandingkan makanan yang biasanya direkomendasikan karena kandungan proteinnya, seperti daging, kacang-kacangan, polong-polongan, dan biji-bijian.
Protein memang penting untuk pertumbuhan, tetapi kita patut mempertanyakan anggapan bahwa makanan pekat dengan kandungan protein tinggi merupakan kebutuhan mutlak.
Fungsi kedua protein adalah memperbaiki jaringan dan mengganti sel-sel yang telah aus.
Setelah organisme mencapai pertumbuhan penuh, yang pada manusia biasanya terjadi antara usia 18 hingga 22 tahun, protein hanya dibutuhkan untuk mengganti kehilangan yang terjadi akibat pergantian jaringan.
Menurut pandangan Natural Hygiene, degenerasi dan kerusakan sel terutama terjadi karena toksisitas di dalam tubuh. Jika kita menerapkan pola hidup dan pola makan yang memasukkan zat-zat beracun seminimal mungkin, kerusakan jaringan bisa berkurang secara signifikan. Dengan demikian, kebutuhan protein aktual juga akan menurun.
Setelah seseorang mencapai usia dewasa, kebutuhan protein sebagai kebutuhan untuk memperbaiki dan mengganti jaringan yang mengalami kerusakan, namun ini sebagian besar disebabkan oleh TOKSISITAS TUBUH.
Protein tidak digunakan secara langsung sebagai bahan bakar utama bagi tubuh atau aktivitas otot.
Saat melakukan pekerjaan fisik, pengeluaran nitrogen sebagai akibat penggunaan protein hanya meningkat sedikit. Sebaliknya, pengeluaran karbon dioksida dan penyerapan oksigen meningkat. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa energi untuk aktivitas fisik terutama berasal dari makanan nonnitrogen, seperti karbohidrat dan lemak, bukan protein.
Memang benar tubuh dapat menggunakan protein untuk menghasilkan energi bagi aktivitas fisik. Namun, proses tersebut dilakukan dengan menguraikan protein dan mengubah bagian karbonnya menjadi bentuk yang dapat digunakan sebagai bahan bakar.
Protein terutama digunakan sebagai bahan bakar ketika terdapat kelebihan protein atau kekurangan karbohidrat. Dalam keadaan ini, tubuh memisahkan unsur nitrogen dari molekul protein, kemudian menggunakan bagian karbon yang tersisa untuk menghasilkan bahan bakar.
Proses tersebut tidak hanya dianggap menyebabkan kehilangan energi bersih, tetapi juga memberikan beban yang tidak perlu pada hati, ginjal, dan organ lain untuk membuang limbah nitrogen yang tidak dapat digunakan.
Atas dasar inilah Natural Hygiene (NH) mengkritik pola makan tinggi protein dan rendah karbohidrat yang populer untuk menurunkan berat badan. Menurut NH, tubuh harus mengeluarkan energi untuk mengubah kelebihan protein menjadi bahan bakar yang dibutuhkan, sehingga terjadi kehilangan energi bersih dan berat badan menurun.
Pada saat yang sama, ginjal akan menerima beban berat untuk mengeluarkan asam urat yang dihasilkan dari pemecahan protein, sementara hati yang sudah kelelahan dipaksa bekerja lebih keras.
Jika aktivitas fisik diperkirakan meningkat, yang perlu ditingkatkan adalah asupan karbohidrat. Protein dinilai kurang efisien sebagai sumber bahan bakar dan tidak membantu aktivitas otot secara langsung maupun efisien.
Penyebab penyakit
Bagaimana kita mengetahui bahwa makanan yang dianggap kurang ideal bisa menyebabkan gangguan kesehatan?
Dalam konsep Natural Hygiene, penyakit berkembang secara bertahap jika kita terus mempertahankan kebiasaan yang dianggap merugikan tubuh. Sebaliknya, gejala penyakit akan berkurang ketika kebiasaan tersebut dihentikan dan pola makan alami kembali diterapkan.
Kami memahami bahwa pandangan ini mungkin sulit diterima. Namun, inti penjelasannya adalah bahwa konsumsi makanan yang dianggap kurang ideal memberikan beban berlebihan pada sistem pengelolaan limbah tubuh, yang dalam perspektif Terrain Model atau Natural Hygiene dikaitkan dengan sistem limfatik.
Ketika sistem limfatik dianggap kewalahan dan mengalami kekurangan cairan, gejala bisa semakin berat dan bertambah dari waktu ke waktu. Tubuh kemudian merespons melalui proses pembersihan yang biasanya kita kenali sebagai pilek, flu, dsb.
Masalah bisa bertambah ketika kita berusaha menekan gejala menggunakan obat-obatan, herbal, atau bahkan pengobatan homeopati. Penanganan gejala justru menambah beban tubuh dan mengganggu proses pembersihan alaminya. Dalam pandangan NH, mengatasi gejala saja paling jauh hanya menunda munculnya masalah kembali. Seseorang mungkin merasa lebih nyaman dalam jangka pendek, tetapi penyebab yang dianggap mendasari masalah belum ditangani.
Karena itu, NH umumnya merekomendasikan istirahat, minum air yang cukup, serta memilih makanan sederhana yang sedekat mungkin dengan pola makan yang ideal.
Tentu saja, tidak ada seorang pun yang sempurna. Seberapa jauh seseorang ingin menerapkan pola makan dan gaya hidup ini merupakan pilihannya masing-masing.
Kami hanya menyampaikan bahwa tujuannya adalah menyebarkan informasi ini agar masyarakat bisa mengambil keputusan yang lebih terinformasi mengenai cara merawat kesehatan mereka.