Prinsip Food Combining Natural Hygiene/Komunitas Terrain Model

1. Dasar pemahaman Food Combining

Para ahli Natural Hygiene mengajarkan pentingnya mengonsumsi makanan alami dengan kombinasi yang tepat. Dalam materi ini, Dr. Herbert M. Shelton, melalui bukunya Food Combining Made Easy, menjadi rujukan utama pembahasan Food Combining dalam Komunitas Terrain Model (TM).

Materi ini menekankan bahwa pola makan tidak cukup hanya memperhatikan jumlah makanan atau kandungan zat gizinya. Cara makanan dikombinasikan juga perlu diperhatikan, dengan mempertimbangkan kemampuan pencernaan tubuh.

Kombinasi makanan yang kurang tepat dapat mengganggu pencernaan dan memicu fermentasi dan pembusukan.
Penjelasan detail pada link: https://terrain-model.com/food-combining/

Prinsip Food Combining diarahkan pada penyederhanaan kombinasi makanan, pemilihan makanan alami, serta pengaturan jenis makanan dalam satu waktu makan.

2. Bagaimana memulainya?

(1) Sarapan pagi

Memulai sarapan buah setelah berjarak sekitar 12 jam dari makan malam. Tujuannya, agar lambung dan usus sudah kosong ketika buah dikonsumsi.

Pada orang yang sehat pencernaannya, biasanya jeda 10 jam sudah cukup baik.

Buah dipilih sebagai makanan pagi karena relatif mudah dicerna. Mengonsumsi buah ketika saluran pencernaan masih berisi sisa makanan sebelumnya berpotensi menimbulkan fermentasi.

Buah dapat dikonsumsi hingga pukul 12.00 siang. Waktu ini dapat diperpanjang hingga sore atau disesuaikan dengan kesiapan tubuh. Perubahan pola makan dianjurkan dilakukan secara bertahap melalui masa transisi.

Buah segar yang matang sempurna dipilih karena merupakan makanan alami. Dalam pendekatan Natural Hygiene, pola makan berbasis buah dan sayuran dimaksudkan untuk menyederhanakan beban pencernaan.

Pada masa awal, sebagian orang mungkin belum merasa kenyang dengan buah. Maka bisa memilih buah yang lebih padat atau mengenyangkan, seperti pisang, apel, atau buah kering seperti kurma. Makanlah kembali ketika lapar datang dan setelah jeda yang cukup.

Bedakan rasa lapar dengan keinginan makan semata.

(2) Makan siang dan makan malam

Makanan utama didampingi sayuran segar sekurang-kurangnya 50% dari menu. Jenis makanan lainnya dapat berupa sayuran yang dimasak dengan bumbu minimalis serta sumber pati atau protein, mengikuti aturan Food Combining.

Jika merencanakan ada menu protein, maka menu protein disarankan untuk makan siang.

Prinsip yang ditekankan adalah sayuran tetap mendominasi piring, sedangkan sumber pati atau protein menjadi bagian pendamping sesuai kombinasi yang dipilih.

(3) Kudapan sore (opsional)

Kudapan sore disesuaikan dengan menu makan siang.

  • Jika makan siang mengandung protein: pilih sayuran non-pati atau rendah pati, baik segar maupun dimasak sederhana. Contohnya wortel kukus, brokoli kukus, labu siam kukus, terong kukus, salad sayuran segar, dll.
  • Jika makan siang mengandung pati: pilihan kudapan meliputi buah yang direbus, dikukus, atau dipanggang; sayuran non-pati dan rendah pati; serta sumber pati rendah mucus.

Kudapan sore bersifat opsional, bukan kewajiban untuk selalu makan di antara waktu makan utama.

3. Tingkatan mucus makanan

Makanan dikelompokkan berdasarkan tingkatan mucus sebagai berikut.

A. Mucus tinggi

Contoh makanan dalam kelompok ini:

  • Daging dari semua jenis hewan.
  • Telur.
  • Lemak hewan.
  • Susu dan produk turunannya, baik segar maupun olahan.
  • Makanan fermentasi.
  • Gula rafinasi.
  • Tepung yang mengandung gluten.
  • Keripik pabrikan dengan penambahan zat sintetik dan stimulan, serta diproses yang rumit.
  • Mentega dan margarin.
  • Sirup.
  • Produk yang melalui pemrosesan panjang dan ditambahkan zat aditif.

B. Mucus sedang

Kelompok ini mencakup:

  • Kacang-kacangan.
  • Biji-bijian.
  • Nasi.
  • Gandum dan serealia.
  • Tepung kentang.
  • Tepung jagung.
  • Tepung beras.

Catatan:

  • Sumber pati (karbohidrat) tidak disarankan dikonsumsi mentah. Pati dianjurkan direbus atau dikukus terlebih dahulu.
  • Kacang-kacangan dapat direndam hingga lunak jika hendak dikonsumsi mentah.

C. Mucus rendah

Contohnya:

  • Jagung.
  • Ubi jalar.
  • Singkong.
  • Talas.
  • Gembili.
  • Porang atau suweg.
  • Uwi atau ubi kelapa.
  • Garut.
  • Kentang.
  • Sukun.
  • Pisang mentah atau muda.
  • Kacang hijau dan berbagai kacang polong kecuali kedelai.
  • Jamur.
  • Minyak nabati dalam jumlah sedikit.
  • Kelapa tua.

D. Mucus sangat rendah atau relatif mucusless

Kelompok ini mencakup:

  • Alpukat.
  • Daging kelapa setengah tua.
  • Buah zaitun.
  • Durian.
  • Rumput laut.
  • Wortel.
  • Brokoli.
  • Bit.
  • Lobak.
  • Labu kuning.
  • Terong ungu dan terong hijau.
  • Labu hijau atau labu siam.
  • Kembang kol.
  • Berbagai sayuran rendah pati.

E. Mucusless atau tanpa mucus

Kelompok ini meliputi:

  • Semua jenis sayuran non-pati.
  • Buah segar yang matang sempurna.
  • Madu mentah (raw honey).
  • Nira kelapa segar.
  • Air tebu segar.
  • Sirup maple murni dan segar.

F. Iritan atau stimulan

Beberapa jenis makanan dan minuman ke kelompok ini, antara lain:

  • Kopi.
  • Cokelat.
  • Makanan dan minuman fermentasi.
  • Vanili.
  • Teh.
  • Berbagai bumbu dan rempah.
  • Lada.
  • Garam.
  • Cabai.
  • Makanan dengan rasa pedas, pahit, atau aroma menyengat.

Jika tetap digunakan, ambil dalam jumlah minimal sebagai bumbu atau sekadar penambah rasa.

4. Kombinasikan makanan dengan tepat

Dr. Herbert M. Shelton, yang menjadi rujukan Food Combining dalam materi ini, memberikan pedoman berikut.

Aturan 1 — Tidak menggabungkan pati dengan makanan asam

Makanan berkarbohidrat dalam bentuk pati tidak dikonsumsi bersamaan dengan makanan asam, kecuali dalam jumlah sedikit sebagai penambah rasa.

Aturan 2 — Tidak menggabungkan protein pekat dengan pati pekat

Protein pekat dan karbohidrat dalam bentuk pati pekat tidak dianjurkan dikonsumsi bersamaan. Pengecualian diberikan apabila salah satu atau keduanya hanya dikonsumsi dalam jumlah sangat sedikit dalam batasan sbb:

  • Protein maksimal 3 gram jika digabung dengan pati.
  • Karbohidrat maksimal 5 gram jika digabung dengan protein.

Contoh:

  • Dalam 100 gram nasi terdapat sekitar 28 gram karbohidrat. Untuk menu yang mengandung protein, materi memberikan contoh porsi nasi sebanyak 18 gram.
  • Dalam 100 gram tempe terdapat sekitar 19 gram protein. Untuk menu yang mengandung pati, materi memberikan contoh porsi tempe sebanyak 16 gram.
  • Dalam 100 gram ikan teri terdapat sekitar 29 gram protein. Untuk menu yang mengandung karbohidrat, materi memberikan contoh porsi ikan teri sebanyak 10 gram.

Catatan:
Sayuran tetap harus mendominasi isi piring. Materi juga menyebutkan bahwa ketentuan ini tidak berlaku bagi orang dengan fungsi pencernaan buruk atau penyakit berat maupun kronis.

Aturan 3 — Tidak menggabungkan dua protein pekat

Dua jenis protein pekat tidak dianjurkan dikonsumsi bersamaan.

Pengecualian diberikan apabila gabungan protein tidak melebihi 30% isi piring. Sisanya diisi dengan sayuran segar dan sayuran yang dimasak.

Aturan 4 — Hanya satu jenis pati pekat

Dalam satu kali makan, pilih satu jenis pati atau karbohidrat pekat.

Pengecualian diberikan apabila gabungan sumber karbohidrat tidak melebihi 50% isi piring. Sisanya diisi dengan sayuran segar dan sayuran yang dimasak.

Aturan 5 — Padukan makanan matang dengan sayuran segar

Setiap mengonsumsi makanan yang dimasak, materi sangat menyarankan untuk memadukannya dengan sayuran segar setidaknya 50%.

Hal ini bertujuan mengurangi sifat asam atau mucus dari makanan olahan maupun makanan yang dimasak.

Aturan 6 — Tidak menggabungkan lemak dengan protein

Lemak tidak dianjurkan dikonsumsi bersamaan dengan protein.

Contoh :

  • Tempe dengan alpukat.
  • Tahu yang dimasak menggunakan santan.
  • Rendang.
  • Opor ayam.

Jika sangat menginginkannya, kombinasi tersebut dijadikan makanan rekreasional saja dan dampingi sayuran segar.

Aturan 7 — Tidak menggabungkan buah asam dengan protein

Buah asam (memiliki pH awal asam) seperti tomat dan lemon tidak dianjurkan dikonsumsi bersamaan dengan pati, kecuali dalam jumlah sedikit sebagai penambah rasa makanan.

Aturan 8 — Tidak menggabungkan pati dengan gula

Pati dan gula tidak dianjurkan dikonsumsi secara bersamaan. Pencampuran keduanya jika hanya sekadar penambahan rasa masih relatif dapat ditoleransi (tidak terlalu buruk).

Contoh:

  • Bubur kacang hijau dengan sangan dan sedikit gula.
  • es cincau dengan santan dan sedikit gula
  • es cendol dengan santan dan sedikit gula

Aturan 9 — Berhati-hati dengan sayuran herbal dan tinggi oksalat

Tidak dianjurkan konsumsi mentah tanaman atau sayuran yang bersifat herbal atau obat, serta sayuran berkandungan oksalat tinggi, kecuali dalam jumlah sangat sedikit. Kelompok ini biasanya memiliki rasa pedas, pahit, aromatik, atau aroma yang menyengat.

5. Prinsip yang perlu diperhatikan ketika makan

Selain kombinasi makanan, materi Kelas Dasar menekankan beberapa kebiasaan berikut:

1. Makan dengan tenang dan penuh rasa syukur.

      Jangan makan ketika sedang sibuk, marah, emosional, atau sedih. Dalam kerangka tersebut, kondisi emosi dianggap dapat memengaruhi proses pencernaan.

      2. Batasi frekuensi makanan yang dimasak.

        Makanan yang dimasak dikonsumsi 1–2 kali sehari, pada siang hari dan/atau malam hari sebelum pukul 20.00. Namun kami lebih menganjurkan agar pkl 19.00 sudah berhenti makan.

        3. Utamakan kesederhanaan.

        Jangan mencampurkan terlalu banyak jenis makanan dalam satu kali makan. Banyaknya variasi makanan dalam satu waktu makan biasanya membuat orang cenderung makan berlebihan.

          6. Inti Food Combining

          Secara ringkas, pedoman yang disampaikan dalam bab ini adalah:

          • Utamakan makanan alami.
          • Jadikan buah sebagai pilihan utama untuk sarapan, dengan penyesuaian secara bertahap.
          • Dampingi makanan utama dengan sayuran, terutama sayuran segar.
          • Pilih sumber pati atau protein sesuai aturan kombinasi.
          • Hindari menggabungkan protein pekat dengan pati pekat.
          • Hindari menggabungkan lemak dengan protein.
          • Hindari kombinasi pati dengan makanan asam atau gula sesuai ketentuan materi.
          • Sederhanakan jenis makanan dalam satu kali makan.
          • Makan dengan tenang dan perhatikan respons tubuh.

          Tujuan akhirnya adalah upaya menuju pencernaan, asimilasi, dan eliminasi yang optimal.

          CATEGORIES
          Share This

          COMMENTS

          Wordpress (0)