Visi & Misi

Visi & Misi kami sederhana, yaitu ingin membantu masyarakat untuk berhenti takut terhadap penyakit sehingga mereka tidak melakukan upaya yang hanya akan membuat mereka semakin sakit dalam jangka panjang, dan mungkin menyebabkan kematian dini. 

Kami ingin membantu mereka memahami sifat sebenarnya dari penyakit, penyebab sebenarnya, dan cara efektif untuk membantu mengatasinya.

Banyak orang hanya dapat menyalahkan takdir atas kondisi penyakit yang diderita dan berharap ditakdirkan lagi untuk sembuh tanpa mau mengoreksi kesalahan dan memperbaikinya. 

Jangan lupa bahwa selain takdir juga ada sunnatullah atau hukum sebab-akibat.

Jika semua yg terjadi hanya dianggap karena takdir, maka sama saja tidak mengakui adanya sunnatullah dan menafikan ikhtiar (usaha) atas sesuatu yg terjadi. 

Takdir memang ada, semua ada konteksnya. Ikhtiar itu wajib, jadi ketika ada penyakit maka koreksilah pola hidup kita selama ini yang mungkin kurang tepat, bukan malah berkata “sudah takdir” tanpa mau menggali apa saja kekeliruan diri sendiri. 

Kalau penderitaan apapun selalu dikaitkan dengan takdir, untuk apa kita belajar mana pola hidup yang sehat atau tidak. Ya sudah makan aja sekehendaknya, jalani saja hidup semaunya, toh kalau sakit itu takdir. Tidak seperti itu! 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Surat Ar-Ra’d, ayat 11:

, إِنَّ اللهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ 

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

Kita tidak bisa berdiam diri tanpa melakukan usaha/ikhtiar. Berusahalah dengan cara yang benar dan di ridhoi-Nya.

Bukankah salah satu bentuk ibadah kepada Allah adalah bertawakkal kepada Allah, dan tawakkal seseorang tidak akan sah kecuali diiringi dengan usaha? 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ﻟَﻮْ ﺃَﻧَّﻜُﻢْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗَﻮَﻛَّﻠُﻮﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺣَﻖَّ ﺗَﻮَﻛُّﻠِﻪِ ﻟَﺮُﺯِﻗْﺘُﻢْ ﻛَﻤَﺎ ﻳُﺮْﺯَﻕُ ﺍﻟﻄَّﻴْﺮُ ﺗَﻐْﺪُﻭ ﺧِﻤَﺎﺻًﺎ ﻭَﺗَﺮُﻭﺡُ ﺑِﻄَﺎﻧًﺎ

“Seandainya kalian sungguh-sungguh bertawakal kepada Allah, sungguh Allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana Allah memberi rezeki kepada seekor burung yang pergi dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang “(HR. Tirmidzi : 2344).

Ketika seorang lapar maka dia akan mencari makan dan berharap kepada Allah untuk mendapatkannya, dengan begitulah dia bertawakkal kepada Allah.

Begitu pula orang yang sakit, dia akan mencari SEBAB untuk MENYEMBUHKAN penyakitnya dan berharap kepada Allah kesembuhan sebagai bentuk ketawakkalannya kepada Allah. Begitu pula orang yang takut terkena suatu penyakit berbahaya, dia akan mencari SEBAB agar terhindar dari penyakit itu dan terus berdoa kepada Allah agar dihindarkan dari penyakit, dan ini adalah tawakkal kepada Allah.

Bahkan, takdir kematian itu ada 2 macam. 

1. Takdir mutlak

2. Takdir ikhtiar

Mengutip pendapat Ustadz Dr. Sufyan Baswedan Lc, MA di laman

https://bimbinganislam.com/apakah-kematian-termasuk-takdir-mutlak/

“Yang dimaksud dengan takdir MUTLAK ialah yang terjadi diluar campur tangan manusia sama sekali, dan takdir IKHTIAR ialah yang terjadi karena campur tangan manusia; maka kematian bisa termasuk takdir mutlak saja dan bisa juga takdir ikhtiar. Bila seseorang mati karena bunuh diri, baik dengan cara melakukan hal-hal yang mengakibatkan hilangnya nyawanya; maupun dengan meninggalkan hal-hal yang menyelamatkan hidupnya; maka kematian ini termasuk takdir ikhtiar.”

Dalam hal penyakit, sudahkah kita melayani kebutuhan tubuh kita untuk sembuh? Atau terus menerus meracuni dan melemahkannya? 

Semoga ini menjadi bahan renungan kita bersama agar tidak abai dalam menjaga dan merawat kesehatan. 

Wallahua’lam. 

CATEGORIES
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)